Konsep Rahmatan Lil Alamin di dalam Islam menjadi esensi dan fundamental bagi nilai luhur berbangsa dan bernegara. Islam memliki konsep utuh dalam melihat faham kebangsaan. Tidak parsial dan ambigu dalam konsep berbangsa. Sejatinya Islam memiliki sejarah perkembangan peradaban yang masyur dan telah teruji zaman.
Islam telah menjadi kekuatan dunia berabad abad yang lalu. Masa kejayaan Islam diwarnai dengan keagungan perkembangan ideologi, sosial, politik, ekonomi, hingga kebudayaan. Dari Eropa di Spanyol hingga lembah sungai Gangga di India. Dari Kazakhtan di utara hingga Kepulauan Indonesia di selatan. Islam telah menyebar ke seluruh dunia dalam berbagai jenis bangsa,
Islam bukan monopoli bangsa Arab. Islam telah hidup dalam ribuan suku bangsa dan ras di dunia. Hidup damai dalam teritorial negara dan bangsa. Tak ada pertentangan . Lingkup nasionalisme kebangsaan melekat erat dalam kehidupan umat Islam.
Cinta tanah air adalah bagian dari nilai ke-Islaman yang komprehensif. Maka tak ada celah bagi orang yang picik untuk menarik Islam ke dalam kancah radikalisme penuh kebencian. Tak ada ajaran dan perintah dalam literatur Islam untuk melakukan penindasan kepada ideologi lain. Pun yang dicontohkan Nabi mulia Muhammad SAW dalam melakukan pengelolaan masyarakat sipil pertama di kota Madinah[1]. Toleransi yang ditunjukkan adalah bukti Islam adalah ajaran penuh cinta kasih, persaudaraan dan saling menghargai.
Sejarah Islam di Nusantara
Islam hadir di nusantara sekitar abad ke-13[2]. Saat itu nusantara masih terserak dalam puluhan kerajaan dan kesultanan. Islam datang dimana perdagangan antar bangsa sedang berjaya. Pelabuhan di nusantara sibuk dikunjungi ribuan pedagang lintas bangsa , lintas ras dan lintas agama.
Barang yang didagangkan pun bervariasi. Rempah rempah, beras, kain, emas dan beberapa barang lainnya. Dengan rute Indonesia bagian timur yang kaya akan rempah rempah lalu menuju Sulawesi bagian selatan, Jawa, Sumatra, Semenanjung melayu hingga akhirnya berpencar menuju China, India dan Arab.
Perdaganganlah yang akhirnya membuat Islam hadir. Bukan peperangan, penaklukan penuh darah atau penggulingan kekuasaan. Islam masuk melalui pelabuhan dan daerah pesisir di nusantara. Islam datang dalam kedamaian transaksi ekonomi yang egaliter.
Sebelum bangsa bangsa Eropa datang, nusantara telah menikmati perdagangan regional antar bangsa. Islam berhasil menyentuh masyarakat pesisir dengan cepat menyebar hingga kepedalaman . Penyerapan itu lebih karena adanya hubungan yang baik antara pendatang (saudagar asal gujarat dan arab) dengan penduduk yang hidup pada jalur perdagangan . Proses akulturasi budaya berjalan mulus tanpa gesekan.
Setelah terjadi proses transformasi etika dan budaya Islam. Perkembangan selanjutnya adalah apa yang dinamakan : religio-politic. Islam mulai menggantikan pengaruh kerajaan Budhisme-Hindu. Dimana Islam mendapat legitimasi kekuasaan dengan melakukan perubahan tata kelola pemerintahan tanpa gonjang ganjing. Islam menjadi agama negara hampir di seluruh nusantara.
Seperti yang diutarakan sejarawan Anthony Miller, Kerajaan Islam tumbuh dan berkembang dengan pola “raja sentris”[3] . Dimana peran raja memiliki pengaruh yang sangat besar dan kuat.Hal ini lazim terjadi di Jawa dan beberapa tempat lainnnya. Uniknya tidak setiap kerajaan atau kesultanan Islam menerapkan hal ini. Di beberapa daerah Islam hadir jauh lebih kompleks. , dengan mendukung pertumbuhan kota, pluralisme sosial, dan batas batas kekuasaan yang terlembagakan.
Antara abad ke-13 hingga abad ke-17 Islam telah berhasil masuk hampir di seluruh wilayah nusantara. Perubahan konstelasi budaya, politik dan kekuasaan memiliki arti penting bagi perkembangan nusantara selanjutnya . Terutama ketika mulai berdatangan para pedagang asal eropa yang ternyata memiliki tujuan lain untuk menguasai jalur perdagangan lalu melakukan agitasi kekuasaan dengan cara tidak etis.
Kedatangan pedagang eropa di nusantara yang awalnya baik berubah seiring melihat potensi kekayaan nusantara yang melimpah ruah terutama rempah rempah. Pedagang eropa memaksakan perdagangan monopoli yang merugikan dengan menggunakan perjanjian yang tidak adil dan apabila tidak berhasil , mereka akan menggunakan cara penaklukan manipulatif.[4]
Pada abad ke 17 pergolakan terjadi di pusat pusat perdagangan nusantara. Tekanan terhadap pedagang antar pulau yang independen oleh pedagang eropa berujung pada persaingan yang tidak sehat. Pedagang eropa yang dibantu kekuasaan negara asal mereka melakukan pengrusakan dan penenggelaman kapal dagang pribumi yang notabene milik pedagang muslim.
Kolonialisasi Dan Perlawanan Kerajaan Islam.
Ekspedisi dagang Belanda datang di akhir abad ke-16. Pertama kali berlabuh di pelabuhan Banten dipimpin Cournelis de Houtman pada tahun 1596[5]. Misi perdagangan ini berjalan damai tanpa kecurigaan dari kesultanan Islam Banten. Seiring berjalannya waktu dan keinginan menguasai jalur perdaganagn nusantara yang kaya , pedagang pedagang Belanda bersepakat membentuk kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 demi memuluskan jalan menguasai jalur perdagangan yang kaya akan rempah rempah. Misi pertama mereka menguasai pusat penghasil rempah rempah yang berada di kepulauan maluku. VOC berhasil menguasai sebagian kepulauan maluku dengan politik adu domba antar kekuasaan kesultanan Islam. Termasuk mengadu domba kesultanan Mataram Islam di pulau jawa hingga terpecah belah.
Politik devida et impera VOC ternyata cukup ampuh untuk beberapa wilayah. Persaingan politik yang berakhir dengan perebutan kekuasaan itu memuluskan VOC untuk mengambil keuntungan yang sangat besar. Namun dibeberapa daerah lain, politik adu domba tak berhasil. Kesultanan Islam Tidore dipimpin Sultan Nuku (1797-1805) melakukan perlawanan yang luar biasa. VOC terdesak dan mengalami kerugian besar. Di Sulawesi bagian selatan, perlawanan Sultan Hasanudin (1631-1670) membuat VOC kalang kabut walau perlawanan itu berhasil dipadamkan.
Perlawanan Sultan Hasanudin di abad ke-16 disebut sebut membuat keuangan kongsi dagang VOC tersedot sangat besar. Biaya perang dan penumpasan daerah bergolak di nusantara yang terus meningkat membuat VOC merugi. Maka pada tahun 1799 VOC dibubarkan karena terus merugi dan dinyatakan bangkrut dengan meninggalkan hutang sebesar 136,7 juta gulden.
Pasca VOC yang bangkrut maka kolonial dan penjajahan nusantara beralih kepada pemerintah Belanda. Pada abad ke 19 pergolakan tidak mereda. Kerajaan dan Kesultanan Islam yang berjuang melenyapkan kekuasaan penjajah semakin meluas. Kesultanan Aceh misalnya tak mengendurkan perlawanannya hingga awal abad ke -20. Perlawanan Tuanku Imam Bonjol di Sumatra Barat (1803-1838) dan perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830) yang lebih dikenal dengan de java oorlog benar benar menguras tenaga dan keuangan pemerintah Belanda. Perlawanan dari berbagai daerah di Indonesia lainnya datang secara sporadis.
Namun perlawanan tersebut hanya bersifat kedaerahan, tanpa persenjataan dan logistik yang cukup, tanpa strategi perang yang baik maka perlawanan itu bisa dipatahkan pihak Belanda.
Hingga akhir abad ke 19 Perlawanan dari kerajaan dan kesultanan Islam masih terus bergolak walau semakin lemah pengaruhnya. Perlawanan itu muncul oleh tokoh tokoh daerah yang mampu mengorganisir kekuatan rakyat sipil. Perlawanan yang hanya bersifat insidental ini mudah dipadamkan dan malah banyak menimbulkan korban jiwa dipihak pejuang.
Politik Etis dan Tumbuhnya Semangat Nasionalisme Kebangsaan
Pasca tekanan dan perubahan haluan politik di negeri Belanda. Dimana pemerintah Belanda mulai menyadari pentingnya peran Hindia Belanda (nusantara) dalam konstelasi bernegara. Atas desakan parlemen Belanda maka diberlakukanlah politik balas budi atau lebih dikenal dengan politik Etis.
Pada tanggal 17 September 1901, Ratu Wilhemina yang baru naik tahta mengumumkan politik balas budi dihadapan parlemen Belanda untuk masyarakat pribumi di Hindia Belanda dengan program Trias Van Deventer, yang meliputi :
1. Irigasi (pengairan) membangun dan memperbaiki pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
2. Emigrasi, mengajak penduduk pribumi untuk melakukan transmigrasi.
3. Edukasi, memperluas bidang pengajaran dan pendidikan.
Namun politik etis ini tak menyentuh masalah kaum pribumi , Pembangunan irigasi hanya untuk kepentingan perkebunan Belanda. Sedang emigrasi dilakukan dalam rangka memindahkan tenaga kerja pribumi di perkebunan dan perusahaan Belanda untuk dijadikan tenaga rodi. Hanya kebijakan Edukasi yang punya manfaat bagi kaum pribumi. Walau pendidikan yang diberikan pemerintah Belanda adalah pendidikan kelas dua dan hanya bisa dinikmati anak anak priyayi keturunan ningrat atau golongan pengusaha kaya.
Pendidikan yang bisa diakses kaum pribumi ini mempunyai pengaruh besar bagi kesadaran nasionalisme kebangsaan. Pada masa itu muncul keprihatinan atas nasib bangsa yang dijajah dengan diskriminasi sosial-budaya. Tokoh tokoh pergerakan nasional mulai muncul. Perkumpulan diskusi kebangsaan tumbuh subur dari berbagai latar belakang.
Berdirinya Budi Utomo dan Syarikat Islam
Dimulai dengan perkumpulan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di motori mahasiswa kedokteran Stovia di Batavia. Di gagas oleh dr Soetomo,dr Wahidin SoediroHusada dan Gunawan Mangunkusumo. Budi Utomo sendiri adalah organisasi yang bersifat sosial, ekonomi dan budaya. Namun berkat Budi Utomo-lah lahir pergerakan yang bersifat politik. Disamping menghasilkan tokoh tokoh pergerakan nasional seperti Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan lainnya.
Budi utomo menjadi motor penggerak bagi organisasi selanjutnya yang lebih bersifat politik . Dari Budi Utomo maka lahirlah sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kesadaran akan nasionalisme dan rasa kebangsaan yang semakin kuat memicu munculnya organisasi massal yang bersifat sosial politik dalam jumlah besar seperti Syarikat Islam. Disinilah peran ummat islam terpanggil untuk mengambil peran penting dalam pergerakan nasionalisme kebangsaan untuk merebut kemerdekaan.
Syarikat Islam semula bernama Syarikat Dagang Islam (SDI) yang menjadi wadah bagi pengusaha Islam yang mayoritas pedagang kain dan pengusaha batik di Surakarta. Didirikan oleh H Samanhudi pada tahun 1905. Dalam perkembangannya yang cepat SDI telah memiliki cabang di beberapa kota di pulau Jawa. Pada tahun 1912 , SDI cabang Surabaya yang dipimpin H.Oemar Said Cokroaminoto(H.O.S Cokroaminoto) merubah nama organisasi menjadi Syarikat Islam (SI) agar lebih banyak lagi kaum pribumi yang bisa masuk .
Syarikat Islam selain bergerak di bidang agama,sosial,pendidikan dan ekonomi juga mengembangkan bidang politik, dalam anggaran dasar organisasinya dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mengembangkan jiwa dagang
2. Membantu permodalan bagi anggota yang kesulitan keuangan usaha dagang.
3. Memajukan bidang pendidikan untuk menaikan derajat rakyat banyak.
4. Memperbaiki pendapat pendapat yang keliru tentang Agama.
5. Hidup menurut perintah Agama
Peran SI sangat besar dalam mengkader kaum muda pribumi . Banyak tokoh tokoh politik yang lahir dari Syarikat Islam seperti Agus salim, Abdul Moeis, Suryopranoto,SM Kartosuwiryo, Sukarno, Tan malaka,Semaun, Darsono, dan lainnya.
Sayang dalam perkembangannya , Syarikat Islam disusupi oleh orang orang berhaluan komunis pada tahun 1914 sehingga timbulah silang sengketa yang berujung dengan berdirinya Syarikat Islam putih yang dipimpin HOS Cokroaminoto di Surabaya dan SI Merah yang berhaluan komunis di pimpin oleh Semaun di Semarang. Jurang sengketa SI akhirnya diakhiri dengan dipecatnya anggota Syarikat Islam Merah ( Semaun, Darsono, Tan Malaka, Alimin Prawirodirjo) dari keanggotaan Syarikat Islam dan melarang anggota merangkap dengan organisasi lain . Keputusan ini diambil ketika kongres luar biasa di Yogyakarta pada tahun 1921.
Keputusan ini membuat anggota Syarikat Islam menyusut padahal sebelumnya SI adalah organisasi Islam massal pertama di Indonesia dengan jumlah keanggotan paling besar. Untuk memulihkan organisasi Syarikat Islam lebih bergerak ke bidang keagamaan bersama Muhammadiyah dengan membawa paham Pan-Islamisme. Syarikat Islam juga mulai mengembangkan hubungan dengan organisasi Islam diluar negeri.
Syarikat Islam (SI) berubah menjadi Partai Syarikat Islam (PSI) pada tahun 1923 yang diputuskan dalam kongres ketujuh . Keputusan kongres juga memutuskan Syarikat Islam keluar dari keanggotaan Volkskraad ( Dewan Rakyat yang dibentuk pemerintah Belanda).
Organisasi Islam dan Semangat Kemerdekaan Indonesia
Organisasi Islam tumbuh dan berkembang pada awal abad ke-20. Nasionalisme kebangsaan yang semakin kuat membuat umat Islam membentuk organisasi massa berbasis sosial, pendidikan, ekonomi dan budaya.
Pada 18 Nopember 1912 lahir organisasi sosial, pendidikan keagamaan Muhammadiyah di Yogyakarta. Dibidani seorang ulama KH Ahmad Dahlan yang berprofesi sebagai khatib di lingkungan keraton Yogyakarta dan juga seorang pedagang. KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah antara tahun 1912 hingga 1922[6]. Muhammadiyah turut serta dalam menanamkan faham nasionalisme kebangsaan melalui pendidikan yang diadakan secara informal. Banyak kader Muhammadiyah yang bergabung dengan partai politik untuk ikut berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Muhammadiyah dengan cepat menyebar karena pengaruh pedagang dari penjuru daerah di Indonesia.
Organisasi sosial pendidikan berbasis agama Nahdatul Ulama (Kebangkitan Ulama) lahir pada 31 Januari 1926 atas kesepakatan para ulama untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Terpilih sebagai Rais Akbar KH Hasyim Ashari. Dalam kalangan NU yang kental dengan kalangan pesantren, semangat melawan kolonialisme begitu kuat. Sifat tidak kompromistis terhadap penjajah membuat KH Hasyim Ashari pernah ditangkap pihak Jepang.
Ketika Indonesia mulai bergolak banyak kyai bersama para santri pengikutnya ikut berjuang memanggul senjata. Hal ini penting di ketahui pesantren punya andil dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Karena ciri pesantren adalah pondok atau sebuah tempat yang di huni para santri (murid/penuntut ilmu) yang dipimpin oleh seorang Kyai atau Ulama. Pesantren dihuni mulai dari puluhan orang hingga ribuan santri dengan sistem belajar berasrama. Hal inilah yang memudahkan pesantren memobilisasi kekuatannya.
Pesantren sendiri menurut sejarahnya telah ada jauh ketika zaman kerajaan/kesultanan Islam berkembang. Menurut catatan Howard M Federspiel, salah seorang pengkaji ke-Islaman di Indonesia, Pesantren telah ada sejak abad ke-12 di Aceh dengan sebutan Dayah. Selain Aceh, Palembang, Jawa timur dan Goa (sulawesi) juga telah ditemukan catatan penting tentang keberadaan pusat studi ke-Islaman ini.
Ketika pecah perang merebut kemerdekaan pasca bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Markas Jepang yang ada di berbagai daerah di serbu rakyat Indonesia. Penyerbuan itu dilakukan untuk melucuti dan mengambil alih senjata tentara Nipon yang telah berbuat kejam selama menduduki Indonesia. Perebutan itu terkadang menjadi pertempuran yang sengit antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang yang tak mau menyerah. Santri yang dikerahkan juga ikut bertempur melawan pihak Jepang. Korban jiwa juga banyak jatuh dipihak santri.
Masyarakat Islam di Jawa timur ketika agresi pertama membentuk laskar Hizbulloh. Kelompok semi-militer yang dibentuk dalam upaya mempertahankan kemerdekaan yang anggotanya sebagian melebur ke dalam TNI setelah perang kemerdekaan usai. Sebagian santri tergabung di dalam kelompok Tentara Pelajar (TP) . Kyai Haji Hasyim Ashari pemimpin pesantren Tebuireng mengirim santrinya mengikuti pendidikan militer Jepang di Bogor. Pengiriman santri belajar militer akhirnya terbukti berguna ketika pecah perang dengan sekutu dalam agresi pertama dan kedua. Pada peristiwa heroik 10 November 1945 ribuan santri pergi ke Surabaya dalam rangka ikut bertempur dengan pasukan Inggris dan Sekutu. Bung Tomo berhasilkan mengobarkan semangat patriotisme lewat pidatonya yang berapi-api.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia lekat dalam perjuangan umat Islam. Karena gugur di medan perang dalam mempertahankan kemerdekaan terhitung mati syahid. Muhammad Toha rela meledakan gudang senjata Belanda walau ia gugur sebagai syahid.
Perlawanan pada masa kerajaan hingga merebut dan mempertahankan kemerdekaan kerap berubah menjadi perlawanan ideologi agama. Perang di Aceh, Perang Padri, Perang Diponegoro,Peristiwa 10 November 1945 melibatkan simbol simbol kekuatan Islam.
Mempertahankan Ideologi Pancasila
Tahun 1965 Indonesia bergejolak. Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan dengan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap pimpinan angkatan darat. Peristiwa yang dikenal dengan nama Gerakan 30 September (G30S) itu berubah menjadi pergolakan kekuasaan dan ideologi negara.
Sebelum terjadi peristiwa G30S , Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi dengan hiper inflasi hingga 650%. Pertentangan politik antara PKI dan lawannya terutama Partai Islam membuat tokoh tokoh politik Islam ditangkap dan partainya dibubarkan. Kekuatan komunis yang semakin kuat karena hubungan yang mesra antara PKI dengan rezim orde lama disamping dukungan RRC dan Uni Sovyet (sekarang:Rusia) . Semua lini kehidupan hampir dikuasai PKI dan kaki tangannya.
Pemberontakan PKI akhirnya berhasil dipatahkan dan diberangus oleh kekuatan militer (AD) dan kekuatan Islam.Selama akhir tahun 1965 hingga 6 bulan kelompok Islam tradisional, NU , kelompok massa Islam lainnya turut serta melakukan pembersihan terhadap orang orang yang ditengarai terlibat PKI. Walau kejadian ini mengundang catatan khusus[7]. Namun peran umat Islam dalam ikut serta membela ideologi Pancasila tercatat jelas dalam sejarah.
Ideologi komunis yang tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila diberangus dan dilarang keberadaannya di Indonesia. Sejak saat itu PKI lenyap dari bumi Indonesia.
Reformasi dalam semangat Islam
Gejolak moneter pada tahun 1997 diawali dengan melambungnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Dengan cepat gejolak finansial berubah menjadi gejolak ekonomi dengan dilikuidasinya bank bank nasional, bangkrutnya perusahaan swasta dan PHK massal pun terhindarkan. Resesi ekonomi itupun berubah menjadi gejolak politik hingga memaksa mundurnya Presiden Soeharto akibat tekanan kelompok mahasiswa,ormas massa, kelompok kelompok agama, masyarakat umum yang berdemo berbulan bulan.
Fajar Reformasi pun bersinar.Rezim Orde baru berganti dengan gerakan Reformasi. Presiden Habibi yang menggantikan memulai fase transisi yang berat dan krusial. Tuntutan demokrasi yang begitu kuat menghembus. Tarik ulur kepentingan begitu tajam. Silang sengketa aturan demokrasi yang akan diterapkan terasa alot.
Angin reformasi yang berhembus kuat itu berhasil meruntuhkan tembok tiran yang selama 32 tahun mengungkung kebebasan berpolitik. Dihapusnya sistem “tri-partai” (Golkar,PPP,PDI) melahirkan multipartai yang berjumlah 141 partai dari beragam ideologi yang mendaftarkan diri pada pemilu 1999. Selain itu dicabutnya UU Keormasan 1985 tentang azas tunggal Pancasila membuat terbukanya kembali Partai politik berazaskan Islam atau Partai yang berorientasi kepada kelompok islam (Muslim based Parties)
Gerakan reformasi merupakan antitesa bagi tindakan superior selama rezim orde lama dan tindakan refresif selama rezim orde baru. Pada kedua orde itu “Islam Politik” mengalami marginalisasi. Berbeda dengan “Islam kultural” yang tak mendapat gangguan dan cenderung mendapat akomodasi pemerintah.
Lahirnya kembali Partai partai Islam setelah mati suri, memberikan medan baru bagi “Islam Politik” . Walau masih banyak pihak yang mencurigai kehadiran “Islam Politik” pada area demokrasi . Hal ini adalah imbas dari pandangan selama ini. “Islam Politik “ secara inheren tak sejalan dengan demokrasi. Dalam literatur Islam tak ada satupun contoh pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah) yang menggunakan demokrasi.
Pandangan ini tak hanya milik orang diluar Islam namun juga dianggap benar oleh sebagian umat Islam[8] yang notabene adalah satu agama. Sebagian umat Islam masih memberikan garis demarkasi antara agama dan politik.
Kesimpulan
Islam di Indonesia telah lama hadir, perannya dalam membentuk peradaban nusantara tercatat sejak abad ke-13. Sejak berkuasanya kerajaan dan kesultanan Islam diberbagai daerah. Pun ketika kekuatan bangsa eropa menjajah, kekuatan Islam tampil melakukan perlawanan dengan gigih tak kenal rasa takut. Era persiapan kemerdekaan hingga mempertahankan kemerdekaan. Islam lagi lagi menjadi soko guru yang berdiri paling depan.Ketika negara dalam keadaan bahaya, Islam tampil di garda terdepan. Dan ketika era reformasi bergulir Islam kembali memberikan peran pentingnya. Memberikan solusi atas tantangan zaman.
Islam dan kebangsaan adalah dua hal yang saling melengkapi. Islam membutuhkan wadah kebangsaan sebagai media dalam menjalankan kehidupan beragama dan beraktifitas sosial, budaya hingga berpolitik. .
Memandang Islam sebagai ancaman adalah pandangan yang didapat dari cara pandang monolitis. Harus dipisahkan antara tindakan umat Islam yang salah paham terhadap ajarannya misalnya terorisme atau tindakan ISIS. Dengan pemeluk Islam yang menjalankan perintah agamanya. Ada persepsi yang absurd .
Sayangnya , pandangan miring tentang Islam telah mendapat labelisasi yang serampangan dari pihak pihak yang mungkin tak mendapat input yang benar. Hal ini membuat pemeluk Islam mengalami diskriminasi sosial, ekonomi hingga politik.
Islam tak pernah bertentangan dengan semangat kebangsaan. Meng-eliminasi salah satu dari dua hal tersebut akan menciptakan guncangan dan kepincangan. Dalam kehidupan beragama, Islam mebutuhkan tangan tangan negara dalam menerapkan ibadah dan perintah agama. Karena Semangat Kebangsaan koheren dengan nilai religiusitas Islam.
Sumber Referensi Tulisan
1. Hefner. W Robert. 2000. Islam Pasar Keadilan, Artikulasi Lokal, Kapitalisme dan Demokrasi. Lkis Yogyakarta
2. A.M.Fatwa. 2000.Satu Islam Multipartai : Membangun Integritas di Tengah Pluritas. Mizan. Bandung.
3. Al Banna Hasan. 2007. Kumpulan Risalah Da’wah Jilid 1 hal 39-41. I’tishom Cahaya Ummat. Jakarta.
4. www.muhammadiyah.or.id/content-50-sejarah.html
5. http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri
6. http://www.nu.or.id/a,public-m,static-s,detail-lang,id-ids,1-id,6-t,sejarah-.phpx
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Sarekat_Islam
8. http://id.wikipedia.org/wiki/Sang_Kiai
9. https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-sultan-nuku-muhammad-amiruddin/
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Hasanuddin
[1] Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, 1414 H
[2] Stuart Robson,”Java at the Crossroads” dalam Bijragen tot de Tall,Land en Volkenkunde, 137:259-292 (1981)
[3] Anthony Miller,”Islam and the Muslim State” dalam M.B Hooker,ed. Islam in Southeast Asia (Leiden:Brill, 1983),hlm 23-49
[4] Robert W Hefner,Islam Pasar Keadilan, artikulasi lokal, kapitalisme dan Demokrasi, Lkis, 2000
[5] Anthony Reid,Southest Asia In The Age Of Commerce,1450-1680,Vol 2,Expansion and Crisis, New Heaven, Conn: Yale University Press,1993
[6] www.muhammadiyah.or.id/content-50-sejarah.html
[7] Robert Cribb, ed. The Indonesian Killing of 1965-1966: Studies From Java and Bali. Clayton, Victoria: Monash University, Center for Southest Asian Studies.
[8] Islam sekuler, Kelompok Islam ini menilai agama adalah urusan pribadi dan tidak boleh digabungkan dengan politik
Sejarah Panjang Islam di Nusantara dalam Semangat Kebangsaan
Reviewed by Unknown
on
10.02
Rating:
Tidak ada komentar: